Posted by: ahmadkomarulzaman | February 22, 2008

Kenapa “takuc”

Jumat pagi ini ga secerah jumat minggu yang lalu. Tapi gada alasan bwt gw untuk bermalas2an di rumah. Gw harus tetep bangun pagi n bersepeda sekitar 10 menit ke arah belakang housing buat kerja. Kerja? dibelanda? di wageningen pula? beneran tuh? sungguh kata “kerja” tersebut seperti sesuatu yang istimewa. Padahal pekerjaan yang gw lakonin hanya sebatas bebersih alias ngebabu a.k.a kacung kampret (Widiastuti, 2007). Sangat jauh dari gelar sarjana ekonomi yang gw sandang ataupun gelar master yang sedang gw usahakan. Tapi tak apalah, yang penting halal, dan dapur bisa tetep ngebul.

Disela2 perjalan menuju rumah majikan, di jalan setapak beraspal, gw ngeliat (maap) tahi (sekali lagi maa) anjing. disaat yang sama gw ngeliat ada kucing melintas. Trus dari dua hal tersebut gw inget dengan istilah tahi kucing, dengan alasan tatakrama kita singkat ajah jadi takuc. kata2 ini sering dipakai orang untuk mengekpresikan ketidakpercayaan akan sesuatu yang dianggap ideal. (Hmm, tunggu2, kayanya definisinya kurang pas deh, kayanya perlu literatur tambahan, mungkin nanti… ).

Kembali ke masalah takuc, selama diperjalan, gw bingung kenapa harus ta** dan kenapa pula harus kucing. Klo t***-nya, menurut hemat gw yg cetek, kayanya cukup relevan untuk mengungkapkan perasaan tersebut, even masih belum puas dengan jawaban ini. Masalahnya selanjutnya adalah kenapa harus punya si kucing? Apa salah si kucing sampai dibawa2 dalam urusan tersebut?trus kenapa ga punyanya sendiri atau kenapa ga punyanya anjing, kambing atau gajah atau burung? apa mungkin karena binatang2 itu sudah punya jatahnya sendiri2. seperti untuk anjing dia terkenal dengan “anjing menggonggong kafilah berlalu” trus kalo kambing “kambing hitam” trus kalau burung “kabar burung” kalo gajah apayah? wah koq jadi nambah lagi nih research questionnya….

Kesimpulan; pertanyaan mengenai kenapa “takuc” masih belum terselesaikan dan diperlukan research lanjutan untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut.

Advertisements

Responses

  1. Iya, gajah uda punya jatah lain, seperti “Tak ada gajah yang tak retak”, atau kalau dalam bahasa Jawa ada peribahasa “gajah ngidak rapah” yang kira-kira artinya seseorang yang mengindahkan aturan yang dibuatnya sendiri. Mengapa takuc? Saya juga bingung, saya kira takuc=takut..:((
    Karen takuc : ta** sudah pasti tidaklah ideal karena kotor dan dihindari orang, sementara kucing adalah binatang yang kurang bisa dipercaya, sudah diberi makanan yang enak, masi saja mencuri pindang.. makanya takuc = ketidakpercayaan (kucing) dari sesuatu yang dianggap ideal (t***), maksa tidak yah?

    JIM

  2. pertanyaannya mirip 😀
    http://rahard.wordpress.com/2008/03/08/kata-anjing/


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: