Posted by: ahmadkomarulzaman | March 5, 2008

Pilihan

Pilihan, berasal dari kata dasar Pilih, dapat diartikan sebagai “jalan, upaya dsb yg dapat dilakukan” (KBBI, 2008).

Kata ini kembali muncul sebagai salah satu jawaban atas misi pencarian “perbedaan” yang gw galakkan bbrp hari yang lalu. Suatu ketika gw pernah nonton fim John Tucker Must Die. Film ini, menurut gw, hanyalah film bergenre komedi romantis anak muda yang sangat jauh dari kata bagus. Namun terlepas dari itu semua, ada sesuatu yang bisa gw dapet dari film ini. Bahwa segala hal itu bisa menjadi berkah atau musibah tergantung dari cara pandang kita terhadap hal tersebut. Berbagai upaya “jail*” mantan pacar2nya yang bermaksud balas dendam dan membunuh karakter John Tucker (sang idola) malah mengukuhkan John Tucker sebagai seseorang yang populer dan makin populer di sekolah tersebut. Hal ini dikarenakan John Tucker telah memilih untukmenjadikan hal tersebut sebagai berkah yang menyenangkan dari pada sebagai suatu musibah yang memalukan.

Begitu pun dengan hidup kita didunia. Kita, dalam menghadapi situasi dan kondidi yang tertentu, bisa memilih untuk senang atau menderita. Kita bisa memilih untuk menjadikan hal tersebut sebagai rintangan atau tantangan. Kita bisa memilih untuk merasa sibuk atau luang. Untuk yang terakhir ini, saya berkaca dari pangelaman beberapa waktu yang lalu. Ketika kuliah S-1 saya seringkali menolak ajakan teman2 untuk, diantaranya, olahraga, ikut seminat ataupun ikut pelatihan2 dengan alasan sibuk dan tidak ada waktu luang. Padahal kenyataannya, saya selalu ada waktu untuk nongkrong dan maen kartu sampai pagi. Suatu pilihan penggunaan waktu yang, menurut saya saat ini, sangat tidak bijak.

Namun demikian, sering kali dengan mudahnya kita mengatakan “tidak ada pilihan lain”. Padahal sebenarnya pilihan tersebut ada tapi kadang tersamar dan kita hanya terpaku pada satu hal. Pelajaran ini saya dapat dari film yang Fantastic Four: Rise of the Silver Surfer. Di salah satu bagian kecil film tersebut terdapat konflik antara Sue Storm/The Invisible Women yang yakin akan adanya pilihan dan the Silver Surfer/ Norrin Radd yang merasa buntu dan tidak melihat adanya pilihan lain. Namun Norrin Radd kemudian disadarkan ketika melihat perjuangan dan pengorbanan Sue Storm dan dia pun menjadi sependapat dengan keyakinan Sue Storm “pasti selalu ada pilihan”.

bersambung….**

*salah satu yang paling menarik dan mudah diingat adalah adegan ketika John Tucker dikerjain untuk memakai G-String.

**meskipun masih blm selesai dan sangat mengasyikkan, gw memilih untuk berhenti sejenak daripada RSI gw kambuh lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: